Selasa, 04 Januari 2011

BERITA TERKINI

Jumlah Kartu Kredit  BCA  Capai  2,2 juta




































































































  1. Nasabah Kelas Menengah: Cashless and Mobile

    Counter Bank; Makin techy, dan makin mobile. (Foto: Budi Urtadi)
    Dewasa ini nasabah sudah berubah. Mereka makin knowleadgeable, techy, dan mobile. Bank dan bankir kini tak bisa lagi menggunakan pendekatan-pendekatan yang konvensional. Yuswohady dan Hendricus Yani
    NASABAH bank di Indonesia, khususnya kelas menengah, telah berubah sangat cepat. Mereka kian smart, melek teknologi (techy), dan mobile.Itulah setidaknya gambaran umum yang diperoleh dari riset yang dilakukan Center for Middle-Class Consumer Studies (CMCS) terhadap nasabah kelas menengah (pengeluaran berkisar Rp4 juta-Rp17 juta per bulan) di enam kota utama, yakni Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, Semarang, dan Makassar.
    Riset tersebut mencoba mengungkap perilaku nasabah kelas menengah bank dan layanan keuangan (termasuk asuransi). Hasil riset tersebut akan diterbitkan dalam bentuk sebuah laporan, Indonesia Middle Class Banking Consumer Report: “Getting Cashless and Mobile”, dalam beberapa minggu ke depan. Riset tersebut menarik karena menghasilkan banyak temuan yang mencengangkan. Namun, di sini kami hanya akan sharing tiga di antaranya.
    Budaya Buy Now, Pay Later
    Ketika kami menanyakan kepada responden apakah membeli produk dengan cara berutang dan mencicil itu baik atau buruk, jawaban yang kami peroleh sungguh mencengangkan. Sekitar 77% dari total responden mengatakan baik, 10% baik sekali, dan 2% sangat baik sekali. Jadi, total jenderal 89% dari mereka mengatakan bahwa berutang/mencicil itu baik hingga sangat baik sekali. Hanya minoritas (sekitar 10%) dari mereka yang mengatakan bahwa berutang/mencicil itu buruk.
    Kegandrungan nasabah kelas menengah kita dalam berutang juga tercermin dari kepemilikan atas produk-produk perbankan saat ini. Seperti tampak pada bagan, kepemilikan atas layanan kredit kendaraan bermotor (KKB) dan kartu kredit menempati posisi kedua dan ketiga setelah produk tabungan. Angkanya pun cukup besar, yaitu masing-masing 56% dan 41% dari seluruh responden. Walaupun berada di posisi kelima, kepemilikan atas kredit pemilikan rumah (KPR) juga cukup besar, sekitar 28%.
    Yang menarik ialah kalau secara khusus kita lihat produk apa saja yang paling banyak mereka beli dengan menggunakan kartu kredit. Di urutan pertama adalah produk-produk rumah tangga, seperti kulkas atau AC (lebih dari 32%); perangkat elektronik, seperti TV, Hi-Fi, atau home theatre (23%); furnitur (11%); baru kemudian disusul smartphone dan notebook. Melihat komposisi itu, tersirat bahwa ibu sebagai “menteri keuangan” di dalam keluarga menempati posisi dominan sebagai pemegang keputusan pembelian.
    Menuju Branchless Banking
    Temuan lain yang menarik ialah perilaku nasabah kelas menengah dalam bertransaksi di kantor cabang. Seperti terlihat pada bagan, mulai banyak porsi nasabah yang tidak bertransaksi melalui kantor cabang. Sebagai gantinya, mereka mulai intensif menggunakan cara bertransaksi elektronik, seperti menggunakan kartu kredit, kartu debit, internet banking, dan mobile banking. Dengan tren tersebut, kelas menengah Indonesia siap menyongsong era branchless banking.
    Dari total responden sebanyak 1.532 orang, sekitar sepertiga (33%) sudah tidak tertarik lagi bertransaksi di kantor cabang bank. Alasannya bermacam-macam, tapi yang utama karena antrean yang panjang dan mereka bisa melakukannya dengan menggunakan automatic teller machine (ATM), kartu kredit, atau intenet banking. Memang, mereka tetap belum bisa meninggalkan kantor cabang karena masih memerlukannya untuk mencetak buku tabungan dan menyetor dana.
    Cashless
    Yang membanggakan, nasabah kelas menengah kita makin techy dalam bertransaksi perbankan dengan memanfaatkan layanan transaksi elektronik, seperti ATM, kartu debit, kartu kredit, internet banking, mobile banking, dan e-money. Mereka makin cashless dan mobile. Temuan ini mengonfirmasi hipotesis bahwa nasabah kelas menengah ialah nasabah yang berpengetahuan (knowledgeable) dan melek teknologi (techy).
    Untuk belanja online, cukup signifikan konsumen yang menggunakan kartu debit (24%), internet banking (23%), dan  kartu kredit (13%). Untuk keperluan makan di luar rumah, kian signifikan konsumen kelas menengah yang menggunakan kartu debit (21%) dan kartu kredit (14%). Sementara, untuk tagihan kartu debit (25%), kartu kredit (10%), dan internet banking (8%), mulai signifikan mereka gunakan.
    pesan apa yang kita peroleh dengan temuan menarik di atas? Pesannya hanya satu, nasabah sudah berubah sedemikian rupa: makinknowleadgeable, makin techy, dan makin mobile. Para bankir tak bisa lagi menggunakan pendekatan-pendekatan lama. Anda harus berubah karena kalau tidak berubah, Anda akan mati. “Change or die!” (*)
    Yuswohady adalah Managing Partner, Inventure, serta Director Center for Middle-Class Consumer Studies (CMCS) dan Hendricus Yani adalah partner,inventure, serta ahli pemasaran perbankan.
    Di sadur dari
    http://www.infobanknews.com/2014/01/nasabah-kelas-menengah-cashless-and-mobile/







    Jumlah Kartu Kredit PermataBank Dibidik Capai 575 Ribu Keping

    Permata World Cup; Targetkan tumbuh 15%. (Foto: Erman)






    Masuk 2014, PermataBank mematok jumlah kartu kredit bisa tembus angka 575 ribu keping. Paulus Yoga
    Jakarta–PT Bank Permata Tbk (PermataBank) membidik jumlah kartu kredit yang diterbitkan mencapai 575 ribu keping pada tahun ini, tumbuh 15% dibanding jumlah kartu eksisting yang saat ini ada 500 ribu keping.
    “Jumlah kartu kredit kita sekitar 500 ribu. Target tumbuh 10-15% pada tahun ini,” ucap Direktur Retail Banking PermataBank Bianto Surodjo, kepada wartawan di Jakarta, Kamis, 23 Januari 2014.
    Dari jumlah tersebut, lanjutnya, bisnis kartu kredit PermataBank paling banyak dikontribusikan oleh PermataShopping Card (Platinum dan Classic) baik dari sisi jumlah kartu dan volume transaksi, mencapai seperempat dari bisnis kartu kredit perseroan.
    Selain itu, PermataBank juga masih memiliki beberapa kartu kredit lain, yakni PermataBlack Card, AstraWorld Permata Card (Platinum dan Gold), Permata Kartu Kredit (Platinum, Gold dan Classic), serta PermataHero Card
    Di sadur dari


    http://www.infobanknews.com/2014/01/jumlah-kartu-kredit-permatabank-dibidik-capai-575-ribu-keping/




    MasterCard Catat Pertumbuhan 40% Kartu Prabayar

    MasterCard Prepaid Card; Berkat kerja sama strategis. (Foto: Dok. MasterCard)



    Inovasi tidak hanya terjadi di negara berkembang. Di negara maju seperti Selandia Baru, MasterCard berinovasi untuk memenuhi kebutuhan yang berbeda. Rully Ferdian
    Singapura–MasterCard mencatat pertumbuhan sebesar 40% dalam volume pendapatan bruto, atau GDV (gross dollar volume), untuk bisnis kartu prabayar di Asia Pasifik, Timur Tengah, dan Afrika (APMEA) pada 2013, dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan besar ini didorong oleh beberapa kerja sama strategis yang diluncurkan pada beberapa tahun terakhir.
    Kerja sama tersebut ini memungkinkan para pemegang kartu dapat menikmati fasilitas utama dari setiap produk, sekaligus melakukan transaksi laiknya kartu prabayar MasterCard, otomatis para konsumen mendapatkan akses layanan finansial dengan lingkup yang lebih luas. Momentum dari pertumbuhan kartu prabayar yang sangat baik ini diharapkan terus memberikan dorongan untuk menggerakkan inklusi keuangan (financial inclusion) di negara-negara berkembang serta meningkatkan transaksi lintas negara dan e-commerce.
    Menurut MasterCard’s Head of Prepaid, Asia/Pacific, Middle East & Africa, Jason Tymms, kebutuhan negara-negara berkembang sangat berbeda dari negara-negara maju dan hal ini terbukti merupakan katalis untuk melahirkan inovasi. “Kami terus berinovasi untuk memenuhi kebutuhan mendasar yakni akses layanan finansial, terutama bagi masyarakat yang berada di tingkat pendapatan terendah,” ujarnya, dalam siaran pers Jumat, 11 April 2014.
    Pada Mei tahun lalu, MasterCard, bekerja sama dengan pemerintah Nigeria, mengumumkan peluncuran 13 juta National Identity Cards. Kartu tanda penduduk ini dilengkapi dengan teknologi pembayaran prabayar MasterCard, solusi pembayaran elektronik terbesar di Nigeria dan inisiatif inklusi keuangan terbesar di Afrika.
    Kartu ini juga memungkinkan para pemegang kartu menerima manfaat dari pelayanan sosial pemerintah. Selain itu masyarakat Nigeria juga dapat menggunakan kartu tanda penduduk (KTP) mereka sebagai alat pembayaran dan menikmati fungsi kartu prabayar seperti, deposit, tarik tunai, atau bahkan pembayaran transaksi online di tempat dengan logo MasterCard.
    Di India, MasterCard meluncurkan kartu ponsel prabayar yang memungkinkan pelanggan salah satu provider telekomunikasi -Beam Money untuk menghubungkan mobile-wallets mereka dengan dunia pembayaran elektronik MasterCard. Dengan demikian mereka dapat melakukan transaksi e-commerce, memesan karcis film atau tiket pesawat terbang, sampai transaksi fisik seperti transfer dana dan tarik tunai menggunakan perangkat seluler mereka.
    Pada 2012, MasterCard juga bekerja sama dengan Pemerintah Chhattisgarh dan the Central Bank of India untuk meluncurkan kartu prabayar mahasiswa untuk distribusi beasiswa. Kerjasama ini dianggap sangat strategis karena menyebabkan distribusi dana beasiswa berjalan dengan cepat dan juga aman serta nyaman bagi para mahasiswa yang menerima pembayaran melalui ATM diseluruh penjuru negeri.
    Namun, menurut Tymms, inovasi tidak hanya terjadi di negara berkembang. “Di negara maju seperti Selandia Baru, MasterCard berinovasi untuk memenuhi kebutuhan yang berbeda. Sebagai contoh, MasterCard bekerja sama dengan Air New Zealand untuk meluncurkan kartu OneSmart yang memberikan benefit keanggotaan dan kartu prabayar pertama di dunia,” ungkap Tymms.
    Salah satu fungsi utama kartu adalah ini adalah untuk mendapatkan benefit keanggotaan Air New Zealand Airpoints dengan fitur utama; teknologi ePass. Tidak hanya mendapat akses lebih cepat di check-in counter penerbangan domestik, kartu ini juga merupakan kartu prabayar MasterCard yang memberikan fasilitas kepada pemilik kartu untuk mendeposit mata uang asing serta menggunakan nilai tukar yang sudah disepakati untuk transaksi lintas negara.
    Sementara itu, di Australia, MasterCard juga bersama-sama dengan Qantas meluncurkan kartu anggota Qantas Frequent Flyer baru dengan fitur Qantas Cash™. Fasilitas prabayar ini memungkinkan pemilik kartu untuk menyimpan mata uang asing, akses penarikan uang tunai melalui ATM dengan logo MasterCard, dan juga mendapatkan poin mileage di setiap transaksi yang dilakukan di seluruh dunia.
    Selain di empat negara diatas, MasterCard juga telah mengadakan kerjasama dengan Rakuten, salah satu situs penjualan online terbesar di Jepang untuk menciptakan kartu prabayar khusus untuk transaksi online pertama di Jepang. Rakuten Virtual Prepaid MasterCard tidak hanya berfungsi sebagai kartu pembayaran transaksi online, namun kartu ini juga dapat melayani transaksi offline di toko yang menerima kartu kredit MasterCard. 
    Di sadur dari
    http://www.infobanknews.com/2014/04/mastercard-catat-pertumbuhan-40-kartu-prabayar/




    BNI Incar Transaksi Rp45 Miliar dari Traval Fair 2014

    BNI Garuda Travel Fair; Dalam dua event. (Foto: Budi Urtadi)


    Pelaksanaan GATF tahun 2014 ini merupakan pelaksanaan yang ke-enam kalinya sejak dilaksanakan pertama kalinya pada tahun 2009 lalu. BNI membidik peningkatan transaksi kartu kredit dan kartu debit. Angga Bratadharma
    Jakarta–PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) sebagai bank partner dalam gelaran ‘Garuda Indonesia Travel Fair (GATF) 2014′, membidik jumlah transaksi bisa mencapai Rp45 miliar baik menggunakan kartu kredit maupun kartu debit. Target transaksi ini naik signifikan menjadi Rp120 miliar lebih bila dibandingkan GATF tahun sebelumnya yang sebesar Rp74 miliar.
    “Tahun lalu transaksi kita Rp22 miliar. Tahun ini kira-kira transaksinya sekitar Rp45 miliar, menggunakan kartu kredit dan kartu debit BNI”, kataGeneral Manager BNI, Dodit W Probojakti, kepada wartawan, di sela-sela pembukaan GATF 2014, di Jakarta, Jumat, 11 April 2014.
    Dodit menjelaskan, perolehan Rp45 miliar tersebut didapatkan BNI dari dua acara yang diselenggarakan oleh Garuda Indonesia. Garuda Indonesia akan menyelenggarakan GATF 2014 pada bulan ini dan program berikutnya akan diselenggarakan pada September 2014.
    “Jadi, Rp45 miliar itu di dua acara. Untuk transaksi seperti ini hanya dalam 3 hari itu termasuk angka yang besar. Sebulan saja kita Rp2 triliun, tapi termasuk semua transaksi”, jelas Dodit.
    Untuk mengoptimalkan perolehan tersebut, BNI sebagai bank partner akan memberikan kesempatan bagi para pengguna jasa Garuda Indonesia dan Pemegang Kartu Kredit dan Debit BNI untuk mewujudkan impian berwisata baik di dalam maupun luar negeri dengan harga yang kompetitif.
    Selama pelaksanaan “GATF 2014” ini, para pengunjung akan mendapatkan berbagai penawaran menarik antara lain; diskon tiket domestik dan internasional hingga 20% untuk seluruh kelas yang tersedia serta program “Buy One Get One” untuk kelas bisnis pada rute-rute tertentu baik domestik maupun internasional.
    Selain itu, Garuda Indonesia juga menyiapkan program “Best Deal”, dimana para pengunjung akan mendapatkan berbagai penawaran menarik untuk tiket domestik dan international, hingga program “Happy Hour” yang hanya berlaku pada waktu tertentu (berlaku hanya untuk rute international). 
    Di sadur dari
    http://www.infobanknews.com/2014/04/bni-incar-transaksi-rp45-miliar-dari-traval-fair-2014/


    Kejar target Rp9, 6 Triliun, BNI Siap Bawa Nasabah Ke Pabrik Ferrari

    BNI Digital Marketing; Program loyalitas. (Foto: Budi Urtadi)

    Sejauh Suami pertumbuhan Kartu fasilitas kredit memang lebih Besar dibandingkan Artikel Baru Kartu debit pertumbuhan. Meski secara value per share Kalah, TAPI pertumbuhan Kartu debit lebih Tinggi. Angga Bratadharma
    Jakarta -PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) menargetkan pertumbuhan berharap Kartu debit secara value per share Bisa Tembus Rp9, 6 triliun Sepanjang Tahun Suami. Program loyalitas nasabah Terus dikeluarkan Dalam, Rangka mencapai sasaran nihil.
    General Manager BNI, Dodit W Probojakti menyatakan, sejauh inisial pertumbuhan Kartu fasilitas kredit memang lebih Besar dibandingkan Artikel Baru Kartu debit pertumbuhan. Meski secara value per share Kalah, TAPI pertumbuhan Kartu debit melebihi pertumbuhan Kartu fasilitas kredit.
    "Memang lebih Besar Kartu fasilitas kredit, TAPI pertumbuhan Kartu debit ITU Tiga Kali pertumbuhan Kartu fasilitas kredit", kata Dodit, kepada Wartawan, di sela-sela pembukaan GATF 2014 di Jakarta, Jumat, 11 April 2014.
    Dodit menjelaskan, untuk memperbesar pertumbuhan Dalam, Rangka mencapai menargetkan pertumbuhan Kartu debit Rp9, 6 triliun, loyalitas Program BNI Terus menggenjot kepada nasabah. Program Suami Terus dilaksanakan KARENA dampaknya kepada kedekatan hubungan Artikel Baru nasabah.
    "Nanti di Oktober kitd Akan memberangkatkan 12 orangutan pemegang Kartu debit untuk melihat Pabrik Ferrari. Kita Akan melihat bagaimana Ferrari dibuat Disana. Itu sudah menjadi diakui pada saat terhutang sama kitd Artikel Baru Ferrari untuk 6 Tahun Ke DEPAN ", pungkas Dodit. 

    Di sadur dari































    12-04-2014 11.00

    LAYANAN ONLINE

    Online chat




 pin: 321E7534